<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Institut Kesenian Jakarta</title>
	<atom:link href="http://pascasarjanaikj.ac.id/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://pascasarjanaikj.ac.id</link>
	<description>Program Pascasarjana</description>
	<lastBuildDate>Tue, 08 May 2012 07:19:02 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>SEMINAR “Keindonesiaan Dan Sebagainya” dengan pembicara  Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono Peluncuran dan Bedah Buku Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan?  Karya Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://pascasarjanaikj.ac.id/seminar-%e2%80%9ckeindonesiaan-dan-sebagainya%e2%80%9d-dengan-pembicara-prof-dr-sapardi-djoko-damono-peluncuran-dan-bedah-buku-mengapa-ksatria-memerlukan-panakawan-karya-sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://pascasarjanaikj.ac.id/seminar-%e2%80%9ckeindonesiaan-dan-sebagainya%e2%80%9d-dengan-pembicara-prof-dr-sapardi-djoko-damono-peluncuran-dan-bedah-buku-mengapa-ksatria-memerlukan-panakawan-karya-sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 13 May 2011 12:24:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>master_ikj</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Project]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://pascasarjanaikj.ac.id/?p=595</guid>
		<description><![CDATA[Acara:  Seminar tentang “Keindonesiaan Dan Sebagainya”dengan pembicara Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono Acara: Peluncuran dan Bedah Buku Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan? Karya Sapardi Djoko Damono oleh Prof. Jakob Sumardjo Tempat: STSI Bandung Waktu: 20 Mei 2011 Penyelenggara: Program Pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian IKJ bekerja sama dengan STSI Bandung Program Pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian Seni Urban dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="638" valign="top">Acara:  Seminar   tentang “Keindonesiaan Dan Sebagainya”dengan pembicara Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono<br />
Acara: Peluncuran dan Bedah Buku Mengapa Ksatria   Memerlukan Panakawan?<br />
Karya Sapardi Djoko Damono oleh Prof. Jakob Sumardjo<br />
Tempat: STSI Bandung<br />
Waktu: 20 Mei 2011<br />
Penyelenggara: Program Pascasarjana Penciptaan dan   Pengkajian IKJ bekerja sama dengan STSI Bandung</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Program Pascasarjana Penciptaan dan Pengkajian Seni Urban dan Industri Budaya, Institut Kesenian Jakarta bekerja sama dengan Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung akan mengadakan seminar dan peluncuran buku.<br />
Untuk memanfaatkan kesempatan yang sangat baik ini, kami menyiapkan dua acara:<br />
(1)   Seminar yang bertajuk “Keindonesiaan dan sebagainya”<br />
(2)   Peluncuran dan Bedah Buku karya Sapardi Djoko Damono yang diberinya judul <em>Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan?<br />
</em> Pada kesempatan pertama dari serangkaian kegiatan yang direncanakan akan diselenggarakan secara berkala ini Program Pascasarjana  menampilkan salah seorang sastrawan terkemuka Indonesia, Prof.Dr. Sapardi Djoko Damono, yang juga menjadi pengajar dalam program ini. Dalam Seminar bertajuk “Keindonesiaan Dan Sebagainya”, Sapardi akan membahas tentang isu “Keindonesiaan” dalam kaitannya dengan kesusastraan.<br />
Buku <em>Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan </em>yang akan dibedah oleh Prof. Jakob Sumardjo berisi 12 esai tentang sejumlah masalah kebudayaan yang menyangkut proses transformasi, pergeseran, dan pengaruh seperti yang antara lain tampak dalam seni pertunjukan, kesusastraan, tatanan sosial.  Esai “Mengapa Ksatria Memerlukan Panakawan”, misalnya, mengungkapkan masalah yang mendasar berkaitan dengan proses transformasi yang terjadi ketika kita ‘menerjemahkan’ kita agung <em>Mahabharata</em> ke dalam seni pertunjukan wayang.<br />
Perlu diketahui, buku karya Sapardi ini diterbitkan oleh Program Pascasarjana IKJ dan merupakan terbitan perdananya. Buku ini tentunya akan disusul karya-karya lain yang ditulis oleh tokoh-tokoh seni dan budaya yang telah memberi sumbangan penting terhadap perkembangan penciptaan dan pengkajian seni dan budaya di Indonesia.<br />
Semangat di balik upaya penerbitan Program Pascasarjana IKJ ini adalah menyebarluaskan pemikiran dan gagasan di bidang seni dan budaya kepada khalayak luas dengan harapan pemikiran dan gagasan itu dapat memberi manfaat bagi perkembangan seni dan budaya kita. Akses terhadap karya-karya penting di bidang seni dan budaya sudah memang sudah saatnya dibuka seluas-luasnya supaya dimanfaatkan sebaik-baiknya baik oleh pekerja maupun peneliti seni, dan tentu oleh masyarakat luas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pascasarjanaikj.ac.id/seminar-%e2%80%9ckeindonesiaan-dan-sebagainya%e2%80%9d-dengan-pembicara-prof-dr-sapardi-djoko-damono-peluncuran-dan-bedah-buku-mengapa-ksatria-memerlukan-panakawan-karya-sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seno Gumira Ajidarma</title>
		<link>http://pascasarjanaikj.ac.id/seno-gumira-ajidarma/</link>
		<comments>http://pascasarjanaikj.ac.id/seno-gumira-ajidarma/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Dec 2010 01:23:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Lecturer]]></category>
		<category><![CDATA[People]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://outstando.com/ikj/?p=368</guid>
		<description><![CDATA[Lahir: Boston, 19 Juni 1958 Pendidikan Formal: 1994 – Sarjana, Fakultas Film &#38; Televisi, Institut Kesenian Jakarta 2000 – Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia 2005 – Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain: 1987 – SEA Write Award 1997 – Dinny O’Hearn Prize for Literary 2005 – Khatulistiwa Literary Award [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-393" title="sga-01-inside" src="http://outstando.com/ikj/wp-content/uploads/2010/12/sga-01-inside.jpg" alt="" width="550" height="309" /></p>
<p>Lahir:<br />
Boston, 19 Juni 1958</p>
<p>Pendidikan Formal:</p>
<ul>
<li>1994 – Sarjana, Fakultas Film &amp; Televisi, Institut Kesenian Jakarta</li>
<li>2000 – Magister Ilmu Filsafat, Universitas Indonesia</li>
<li>2005 – Doktor Ilmu Sastra, Universitas Indonesia</li>
</ul>
<p>Penghargaan yang pernah di peroleh, antara lain:</p>
<ul>
<li>1987 – SEA Write Award</li>
<li>1997 – Dinny O’Hearn Prize for Literary</li>
<li>2005 – Khatulistiwa Literary Award</li>
</ul>
<p>Aktivitas dan kesibukan:<br />
Wartawan, Fotografer, Dosen, dan tentu saja Penulis</p>
<p><strong>PROFIL</strong></p>
<p>Seno Gumira Ajidarma</p>
<p>Sumber:<br />
Pusat Data dan Analisis TEMPO</p>
<p>SASTRAWAN yang satu ini sosok pembangkang. Ayahnya Prof. Dr. MSA Sastroamidjojo, guru besar Fakultas MIPA Universitas Gadjah Mada. Tapi, lain ayah, lain pula si anak. Seno Gumira Ajidarma bertolak belakang dengan pemikiran sang ayah. Walau nilai untuk pelajaran ilmu pasti tidak jelek-jelek amat, ia tak suka aljabar, ilmu ukur, dan berhitung. “Entah kenapa. Ilmu pasti itu kan harus pasti semua dan itu tidak menyenangkan,” ujar Seno. Dari sekolah dasar sampai sekolah menengah atas, Seno gemar membangkang terhadap peraturan sekolah, sampai-sampai ia dicap sebagai penyebab setiap kasus yang terjadi di sekolahnya. Waktu sekolah dasar, ia mengajak teman-temannya tidak ikut kelas wajib kor, sampai ia dipanggil guru. Waktu SMP, ia memberontak: tidak mau pakai ikat pinggang, baju dikeluarkan, yang lain pakai baju putih ia pakai batik, yang lain berambut pendek ia gondrong. “Aku pernah diskors karena membolos,” tutur Seno.</p>
<p>Imajinasinya liar. Setelah lulus SMP, Seno tidak mau sekolah. Terpengaruh cerita petualangan Old Shatterhand di rimba suku Apache, karya pengarang asal Jerman Karl May, ia pun mengembara mencari pengalaman. Seperti di film-film: ceritanya seru, menyeberang sungai, naik kuda, dengan sepatu mocasin, sepatu model boot yang ada bulu-bulunya. Selama tiga bulan, ia mengembara di Jawa Barat, lalu ke Sumatera berbekal surat jalan dari RT Bulaksumur yang gelarnya profesor doktor. Lancar. Sampai akhirnya jadi buruh pabrik kerupuk di Medan. Karena kehabisan uang, ia minta duit kepada ibunya. Tapi, ibunya mengirim tiket untuk pulang. Maka, Seno pulang dan meneruskan sekolah.</p>
<p>Ketika SMA, ia sengaja memilih SMA yang boleh tidak pakai seragam. “Jadi aku bisa pakai celana jins, rambut gondrong.”</p>
<p>Komunitas yang dipilih sesuai dengan jiwanya. Bukan teman-teman di lingkungan elite perumahan dosen Bulaksumur (UGM), rumah orangtuanya. Tapi, komunitas anak-anak jalanan yang suka tawuran dan ngebut di Malioboro. “Aku suka itu karena liar, bebas, tidak ada aturan.”</p>
<p>Walau tak mengerti tentang drama, dua tahun Seno ikut teater Alam pimpinan Azwar A.N. “Lalu aku lihat Rendra yang gondrong, kerap tidak pakai baju, tapi istrinya cantik (Sitoresmi). Itu kayaknya dunia yang menyenangkan,” kata Seno.</p>
<p>Tertarik puisi-puisi mbeling-nya Remy Sylado di majalah Aktuil Bandung, Seno pun mengirimkan puisi-puisinya dan dimuat. Honornya besar. Semua pada ngenyek Seno sebagai penyair kontemporer. Tapi ia tidak peduli. Seno tertantang untuk mengirim puisinya ke majalah sastra Horison. Tembus juga. “Umurku baru 17 tahun, puisiku sudah masuk Horison. Sejak itu aku merasa sudah jadi penyair,” kata Seno bangga.</p>
<p>Kemudian Seno menulis cerpen dan esai tentang teater.</p>
<p>Jadi wartawan, awalnya karena kawin muda pada usia 19 tahun dan untuk itu ia butuh uang. Tahun itu juga Seno masuk Institut Kesenian Jakarta, jurusan sinematografi. “Nah, dari situ aku mulai belajar motret,” ujar pengagum pengarang R.A. Kosasih ini.</p>
<p>Kalau sekarang ia jadi sastrawan, sebetulnya bukan itu mulanya. Tapi mau jadi seniman. Seniman yang dia lihat tadinya bukan karya, tetapi Rendra yang santai, bisa bicara, hura-hura, nyentrik, rambut boleh gondrong. “Tapi, kemudian karena seniman itu harus punya karya maka aku buat karya,” ujar Seno disusul tawa terkekeh.</p>
<p>Sampai saat ini Seno telah menghasilkan puluhan cerpen yang dimuat di beberapa media massa. Cerpennya Pelajaran Mengarang terpilih sebagai cerpen terbaik Kompas 1993. Buku kumpulan cerpennya, antara lain: Manusia Kamar (1988), Penembak Misterius (1993), Saksi Mata (l994), Dilarang Menyanyi di Kamar Mandi (1995), Sebuah Pertanyaan untuk Cinta (1996), Iblis Tidak Pernah Mati (1999). Karya lain berupa novel Matinya Seorang Penari Telanjang (2000). Pada tahun 1987, Seno mendapat Sea Write Award. Berkat cerpennya Saksi Mata, Seno memperoleh Dinny O’Hearn Prize for Literary, 1997.</p>
<p>Kesibukan Seno sekarang adalah membaca, menulis, memotret, jalan-jalan, selain bekerja di Pusat Dokumentasi Jakarta-Jakarta. Juga kini ia membuat komik. Baru saja ia membuat teater.</p>
<p>Pengalamannya yang menjadi anekdot yakni kalau dia naik taksi, sopir taksinya mengantuk, maka ia yang menggantikan menyopir. Si sopir disuruhnya tidur.</p>
<p><span style="color: #888888;"><em>Foto: <a href="http://areamagz.com/article/read/2010/02/25/seno-gumira-ajidarma-bincang-singkat-soal-nagabumi">http://areamagz.com/</a></em></span></p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pascasarjanaikj.ac.id/seno-gumira-ajidarma/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Performance Review: Sardono Dance Theater and Jennifer Tipton at REDCAT</title>
		<link>http://pascasarjanaikj.ac.id/performance-review-sardono-dance-theater-and-jennifer-tipton-at-redcat/</link>
		<comments>http://pascasarjanaikj.ac.id/performance-review-sardono-dance-theater-and-jennifer-tipton-at-redcat/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Dec 2010 01:14:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Project]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/ikj/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[From: http://latimesblogs.latimes.com/ Making art isn’t easy, and for many artists the hardest part is getting started. The first invention must be a strategy for facing a blank page, canvas, computer screen. Japanese composer Toru Takemitsu’s ritual was to begin the day by playing a Bach prelude and fugue on the piano. Terry Riley likes to [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-399" title="swk-inside" src="http://outstando.com/ikj/wp-content/uploads/2010/12/swk-inside.jpg" alt="" width="550" height="350" /></p>
<p>From: <a href="http://latimesblogs.latimes.com/culturemonster/2010/09/sardono-dance-theater-and-jennifer-tipton-at-redcat.html">http://latimesblogs.latimes.com/</a></p>
<p>Making art isn’t easy, and for many artists the hardest part is getting started. The first invention must be a strategy for facing a blank page, canvas, computer screen. Japanese composer Toru Takemitsu’s ritual was to begin the day by playing a Bach prelude and fugue on the piano. Terry Riley likes to greet a favorite tree. Some turn to the bottle.</p>
<p>The extraordinary Indonesian dancer, choreographer and visual artist Sardono W. Kusumo has come up with a far more fanciful ritual for making an action painting in his “Rain Coloring Forest,” which opened the REDCAT season Thursday night. This collaboration between the Jakarta-based, three-member Sardono Dance Theater, the lighting designer Jennifer Tipton and the composer David Rosenboom continues through Sunday.</p>
<p>The activity in the theater lasts an hour, and during it Sardono makes a beautiful drip painting on a newly primed canvas that will enliven whatever lucky room in which it eventually settles. But those who watch the painting&#8217;s organic birth, the agony and celebration of its creation, are the true possessors. The painting is the vapor of its performance, and I think it is safe to say that no canvas has ever been so primed.</p>
<p>The evening begins like this: The theater, as we enter, is already a place of color and texture and luminosity. Along one side wall snake coils of rice-paper paintings. On the stage are five elaborately painted Sardono scrolls only partly unspooled. Another painted rice-paper coil lies on the stage floor. The dancer Bambang “Besur” Suryono, the first to appear, will slowly drape himself in it while the five scrolls rise to their regal 30-foot height.</p>
<p>This first part of the performance might be called wrap and rumble. Besur, who has worked with Sardono for two decades, is also a vocalist. His measured movements of arms, legs and torso are accompanied by deep growls from which materialize unearthly overtones. Along with this, Rosenboom, who is seated on the stage cross-legged at keyboard and computer, creates an electronic sound-scape that envelops the room in richly complex drones, manipulated from pre-recorded somatic sounds. They intersect with Besur’s, producing the sensation of an animated wilderness.</p>
<p>The middle part features a Sardono solo. He arrives from darkness. A ramp bisects the stage. Its dark covering unrolls to reveal a white canvas, mystically lit. Sardono, with long beard and hair, dances in silence on it.</p>
<p>He begins with minimal, primeval movements, as if something from him is about to emerge. Hands and feet appear to be unconnected. Postures are variations on the fetal position. Sardono seems to be in the process of identifying his appendages. He traces fingers and toes with a marker on the canvas as he effortfully wends his way down the ramp.</p>
<p>Then the miracle occurs. Some 800 rice-paper paintings suddenly drop down. Sardono and his colleagues made them during jet-lagged nights over the last two weeks, while they acclimatized to Pacific Daylight Time and work-shopped this “coloring forest”  in the black box. (REDCAT officials told me it is not as easy as you might think –- or inexpensive –- to come up with 800 sheets of rice-paper on the spot).</p>
<p>The speakers explode. The young, athletic dancer I Ketut Rina emerges covered in rice paper from what has now become a forest floor of the stuff. Besur returns changed into a woman. Both are masked. Meanwhile Sardono, a Jakarta Jackson Pollock, flings paint, which appears to come from the dancer like body fluids. This is painting as parturition, gestated from rice-paper and ritual, from chant and chaos, and given life-bearing illumination from Tipton’s artificial suns.</p>
<p>At the end, the ramp rises and the paint begins to run the canvas. Broad swatches of colors turn into streaks. The new painting then takes its place among the five other scrolls as a beaming new being. It is smaller but much brighter, and, still dripping, alive.</p>
<p>A final bit of amazement is how reluctant many in the audience are to leave once the house lights come on. Watching paint dry is said to be boring –- not in this “Rain Coloring Forest.”</p>
<p>&#8211; Mark Swed</p>
<p>Sardono Dance Theater and Jennifer Tipton: “Rain Coloring Forest.” REDCAT, 631 W. 2nd St. 8:30 p.m. Friday and Saturday; 3 p.m. Sunday, 1 hour. $25-$30 (213) 237-2800 or</p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pascasarjanaikj.ac.id/performance-review-sardono-dance-theater-and-jennifer-tipton-at-redcat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sapardi Djoko Damono</title>
		<link>http://pascasarjanaikj.ac.id/sapardi-djoko-damono/</link>
		<comments>http://pascasarjanaikj.ac.id/sapardi-djoko-damono/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Dec 2010 15:37:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Lecturer]]></category>
		<category><![CDATA[People]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost/ikj/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 70 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer. Riwayat hidup Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://outstando.com/ikj/wp-content/uploads/2010/12/sdd-big.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-378" title="sdd-big" src="http://outstando.com/ikj/wp-content/uploads/2010/12/sdd-big.jpg" alt="" width="550" height="309" /></a></p>
<p>Prof. Dr. Sapardi Djoko Damono (lahir di Surakarta, 20 Maret 1940; umur 70 tahun) adalah seorang pujangga Indonesia terkemuka. Ia dikenal dari berbagai puisi-puisi yang menggunakan kata-kata sederhana, sehingga beberapa di antaranya sangat populer.</p>
<div id="_mcePaste"><strong>Riwayat hidup</strong></div>
<div id="_mcePaste">Masa mudanya dihabiskan di Surakarta (lulus SMP Negeri 2 Surakarta tahun 1955 dan SMA Negeri 2 Surakarta tahun 1958). Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang Bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah &#8220;Horison&#8221;, &#8220;Basis&#8221;, dan &#8220;Kalam&#8221;.</div>
<div id="_mcePaste">Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima Penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.</div>
<div id="_mcePaste">Ia menikah dengan Wardiningsih dan dikaruniai seorang putra dan seorang putri.</div>
<p><strong>Karya-karya</strong></p>
<p>Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa daerah. Ia tidak saja menulis puisi, namun juga cerita pendek. Selain itu, ia juga menerjemahkan berbagai karya penulis asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.</p>
<p>Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet &#8220;Dua Ibu&#8221;). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.</p>
<p>Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.</p>
<p><strong>Kumpulan Puisi/Prosa</strong></p>
<ul>
<li>&#8220;Duka-Mu Abadi&#8221;, Bandung (1969)</li>
<li>&#8220;Lelaki Tua dan Laut&#8221; (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)</li>
<li>&#8220;Mata Pisau&#8221; (1974)</li>
<li>&#8220;Sepilihan Sajak George Seferis&#8221; (1975; terjemahan karya George Seferis)</li>
<li>&#8220;Puisi Klasik Cina&#8221; (1976; terjemahan)</li>
<li>&#8220;Lirik Klasik Parsi&#8221; (1977; terjemahan)</li>
<li>&#8220;Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak&#8221; (1982, Pustaka Jaya)</li>
<li>&#8220;Perahu Kertas&#8221; (1983)</li>
<li>&#8220;Sihir Hujan&#8221; (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)</li>
<li>&#8220;Water Color Poems&#8221; (1986; translated by J.H. McGlynn)</li>
<li>&#8220;Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono&#8221; (1988; translated by J.H. McGlynn)</li>
<li>&#8220;Afrika yang Resah (1988; terjemahan)</li>
<li>&#8220;Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia&#8221; (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)</li>
<li>&#8220;Hujan Bulan Juni&#8221; (1994)</li>
<li>&#8220;Black Magic Rain&#8221; (translated by Harry G Aveling)</li>
<li>&#8220;Arloji&#8221; (1998)</li>
<li>&#8220;Ayat-ayat Api&#8221; (2000)</li>
<li>&#8220;Pengarang Telah Mati&#8221; (2001; kumpulan cerpen)</li>
<li>&#8220;Mata Jendela&#8221; (2002)</li>
<li>&#8220;Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?&#8221; (2002)</li>
<li>&#8220;Membunuh Orang Gila&#8221; (2003; kumpulan cerpen)</li>
<li>&#8220;Nona Koelit Koetjing: Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an &#8211; 1910an)&#8221; (2005; salah seorang penyusun)</li>
<li>&#8220;Mantra Orang Jawa&#8221; (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)</li>
<li>&#8220;Kolam&#8221; (2009; kumpulan puisi)</li>
<li>Sapardi juga menerjemahkan beberapa karya Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke dalam bahasa Indonesia.</li>
</ul>
<p><strong>Musikalisasi Puisi</strong></p>
<p>Musikalisasi puisi karya SDD dimulai pada tahun 1987 ketika beberapa mahasiswanya membantu program Pusat Bahasa, membuat musikalisasi puisi karya beberapa penyair Indonesia, dalam upaya mengapresiasikan sastra kepada siswa SLTA. Saat itulah tercipta musikalisasi Aku Ingin oleh Ags. Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim. Kelak, Aku Ingin diaransemen ulang oleh Dwiki Dharmawan dan menjadi bagian dari &#8220;Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti&#8221; (1991), dibawakan oleh Ratna Octaviani.</p>
<p>Beberapa tahun kemudian lahirlah album &#8220;Hujan Bulan Juni&#8221; (1990) yang seluruhnya merupakan musikalisasi dari sajak-sajak Sapardi Djoko Damono. Duet Reda Gaudiamo dan Ari Malibu merupakan salah satu dari sejumlah penyanyi lain, yang adalah mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia.</p>
<p>Album &#8220;Hujan Dalam Komposisi&#8221; menyusul dirilis pada tahun 1996 dari komunitas yang sama.</p>
<p>Sebagai tindak lanjut atas banyaknya permintaan, album &#8220;Gadis Kecil&#8221; (2006) diprakarsai oleh duet Dua Ibu, yang terdiri dari Reda Gaudiamo dan Tatyana dirilis, dilanjutkan oleh album &#8220;Becoming Dew&#8221; (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu.</p>
<p>Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata &#8220;Ars Amatoria&#8221; yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD serta karya beberapa penyair lain.</p>
<p><strong>Buku</strong></p>
<ul>
<li>&#8220;Sastra Lisan Indonesia&#8221; (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.</li>
<li>&#8220;Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan&#8221;</li>
<li>&#8220;Dimensi Mistik dalam Islam&#8221; (1986), terjemahan karya Annemarie Schimmel &#8220;Mystical Dimension of Islam&#8221;, salah seorang penulis.</li>
<li>Pustaka Firdaus</li>
<li>&#8220;Jejak Realisme dalam Sastra Indonesia&#8221; (2004), salah seorang penulis.</li>
<li>&#8220;Sosiologi Sastra: Sebuah Pengantar Ringkas&#8221; (1978).</li>
<li>&#8220;Politik ideologi dan sastra hibrida&#8221; (1999).</li>
<li>&#8220;Pegangan Penelitian Sastra Bandingan&#8221; (2005).</li>
<li>&#8220;Babad Tanah Jawi&#8221; (2005; penyunting bersama Sonya Sondakh, terjemahan bahasa Indonesia dari versi bahasa Jawa karya Yasadipura, Balai Pustaka 1939).</li>
</ul>
<p><em><span style="color: #888888;">Foto: http://cetak.kompas.com</span></em></p>
<p>* * *</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://pascasarjanaikj.ac.id/sapardi-djoko-damono/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

